TEORI ETIKA LINGKUNGAN
Etika Egosentris
Etika
yang mendasarkan diri pada berbagai kepentingan individu
(self). Egosentris didasarkan pada keharusan individu untuk memfokuskan
diri dengan tindakan apa yang dirasa baik untuk dirinya. Egosentris mengklaim bahwa
yang baik bagi individu adalah baik untuk masyarakat. Orientasi etika egosentris bukannya
mendasarkan diri pada narsisisme, tetapi lebih didasarkan pada filsafat yang
menitikberatkan pada individu atau kelompok privat yang berdiri sendiri secara
terpisah seperti “atom sosial” (J. Sudriyanto, 1992:4)
Inti
dari pandangan egosentris ini, Sonny Keraf (1990:31) menjelaskan bahwa tindakan
dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi
dan memajukan diri sendiri.
Dengan
demikian, etika egosentris mendasarkan diri pada tindakan manusia sebagai
pelaku rasional untuk memperlakukan alam menurut insting “netral”. Hal ini
didasarkan pada berbagai pandangan “mekanisme” terhadap asumsi yang berkaitan
dengan teori
sosial liberal.
1. Pengetahuan
mekanistik didasarkan pada asumsi bahwa segala sesuatu merupakan bagian yang
berdiri sendiri secara terpisah. Atom-atom merupakan komponen riil dari alam.
Begitu juga manusia yang merupakan komponen riil dari masyarakat.
2. Keseluruhan
adalah penjumlahan dari bagian-bagian. Hukum identitas logika (A=A) mendasari
penggambaran alam secara matematis. Demikian pula masyarakat, yang tidak lain
merupakan penjumlahan dari banyak pelaku rasional individu.
3. Mekanisme
mempunyai asumsi bahwa banyak sebab eksternal berlaku dalam berbagai bagian
internal. Serupa dengan masyarakat, hukum dan berbagai aturan yang dipaksakan
oleh penguasa akan ditaati oleh rakyat secara positif.
4. Perubahan
dapat terjadi dengan cara menyusun kembali bagian-bagiannya. Bangunan tuntutan
masyarakat ditentukan oleh bagian-bagiannya.
5. Ilmu
mekanis selalu dualistik, seperti, pengetahuan mekanis menempatkan bagian
individu sebagai komponen utama dalam pembangunan timbul korporat. Etika
egosentris menempatkan manusia sebagai individu paling utama dalam pembangunan
lingkungan sosial (J. Sudriyanto, 1992:15).
Etika Homosentris
Etika
homosentris mendasarkan diri pada kepentingan
sebagian masyarakat. Etika ini mendasarkan diri pada berbagai model kepentingan
sosial dan pendekatan antara pelaku lingkungan yang melindungi sebagian besar
masyarakat manusia.
Etika
homosentris sama dengan etika utilitarianisme,
jadi, jika etika egosentris mendasarkan penilaian baik dan buruk suatu tindakan
itu pada tujuan dan akibat tindakan itu bagi individu, maka etika
utilitarianisme ini menilai baik buruknya suatu tindakan itu berdasarkan pada
tujuan dan akibat dari tindakan itu bagi sebanyak mungkin orang. Etika
homosentris atau utilitarianisme ini sama dengan universalisme etis. Disebut
universalisme karena menekankan akibat baik yang berguna bagi sebanyak mungkin
orang dan etis karena ia menekankan akibat yang baik. Disebut
utilitarianismekarena ia menilai baik atau buruk suatu tindakan berdasarkan
kegunaan atau manfaat dari tindakan tersebut (Sonny Keraf, 1990:34).
Seperti
halnya etika egosentris, etika homosentris konsisten dengan asumsi pengetahuan
mekanik. Baik alam mau pun masyarakat digambarkan dalam pengertian organis
mekanis. Dalam masyarakat modern, setiap bagian yang dihubungkan secara organis
dengan bagian lain. Yang berpengaruh pada bagian ini akan berpengaruh pada
bagian lainnya. Begitu pula sebaliknya, namun karena sifat uji yang
utilitaris, etika utilitarianisme ini mengarah pada pengurasan berbagai
sumber alam dengan dalih demi kepentingan dan kebaikan masyarakat (J. Sudriyanto,
1990:16).
Etika Ekosentris
Etika
ekosentris mendasarkan diri pada kosmos. Menurut etika ekosentris ini,
lingkungan secara keseluruhan dinilai pada dirinya sendiri. Etika ini menurut
aliran etis ekologi tingkat tinggi yakni deep ecology, adalah yang
paling mungkin sebagai alternatif untuk memecahkan dilema etis ekologis.
Menurut ekosentrisme, hal yang paling penting adalah tetap bertahannya
semua yang hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem yang sehat,
seperti halnya manusia, semua benda kosmis memiliki tanggung jawab moralnya
sendiri (J. Sudriyanto, 1992:243)
Menurut
etika ini, bumi memperluas berbagai ikatan komunitas yang mencakup “tanah, air,
tumbuhan dan binatang atau secara kolektif, bumi”. Bumi mengubah perah
“homo sapiens” dari makhluk komunitas bumi, menjadi bagian susunan warga
dirinya. terdapat rasa hormat terhadap anggota yang lain dan juga terhadap komunitas
alam itu sendiri (J. Sudriyanto, 1992:2-13). Etika ekosentris bersifat
holistik, lebih bersifat mekanis atau metafisik. Terdapat lima asumsi dasar
yang secara implisit ada dalam perspektif holistik ini, J. Sudriyanto (1992:20)
menjelaskan:
1. Segala
sesuati itu saling berhubungan. Keseluruhan merupakan bagian, sebaliknya
perubahan yang terjadi adalah pada bagian yang akan mengubah bagian yang lain
dan keseluruhan. Tidak ada bagian dalam ekosistem yang dapat diubah tanpa
mengubah dinamika perputarannya. Jika terdapat banyak perubahan yang terjadi
maka akan terjadi kehancuran ekosistem.
2. Keseluruhan
lebih daripada penjumlahan banyak bagian. Hal ini tidak dapat disamakan dengan
konsep individu yang mempunyai emosi bahwa keseluruhan sama dengan penjumlahan
dari banyak bagian. Sistem ekologi mengalami proses sinergis, merupakan
kombinasi bagian yang terpisah dan akan menghasilkan akibat yang lebih besar
daripada penjumlahan efek-efek individual.
3. Makna
tergantung pada konteksnya, sebagai lawan dari “independensi konteks” dari
“mekanisme”. Setiap bagian mendapatkan artinya dalam konteks keseluruhan.
4. Merupakan
proses untuk mengetahui berbagai bagian.
5. Alam
manusia dan alam non manusia adalah satu. Dalam holistik tidak terdapat
dualisme. Manusia dan alam merupakan bagian dari sistem kosmologi organik yang
sama.
Uraian
di atas akan mengantarkan pada sebuah pendapat Arne Naess,
seorang filsuf Norwegia bahwa kepedulian terhadap alam lingkungan dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1. Kepedulian
lingkungan yang “dangkal” (shallow ecology)
Daftar
Pustaka
- · Sonny Keraf, 1990. Etika Bisnis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
- · Sudiyanto, J., 1992, Filsafat Organisme Whitehead dan Etika Lingkungan Hidup. Majalah Filsafat Driyarkara: Jakarta, hal. 2-13
- · http://aprillins.com/2010/1428/tiga-teori-etika-lingkungan-egosentris-homosentris-ekosentris/3/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar